Pada tahap awal pelatihan penerbangan, seorang pelajar pilot mempelajari dasar-dasar aerodinamika menggunakan pesawat kecil bermesin tunggal seperti Cessna 172 atau Piper Archer. Pesawat-pesawat ini dirancang agar mudah memaafkan dan relatif mudah dioperasikan, memungkinkan pilot menguasai dasar-dasar lepas landas, pendaratan, dan navigasi. Namun, dunia penerbangan komersial beroperasi pada skala yang sangat berbeda. Ketika seorang pilot bertransisi dari lingkungan sekolah penerbangan ke kokpit dengan tipe Boeing 737 atau Airbus A320, mereka berpindah ke mesin dengan kompleksitas, kecepatan, dan bobot yang luar biasa. Untuk memastikan keselamatan dan kinerja terstandar, otoritas penerbangan memerlukan sertifikasi khusus yang dikenal sebagai rating tipe. Ini adalah tonggak sejarah utama bagi setiap calon pilot maskapai penerbangan, yang mewakili jembatan antara penerbangan umum dan karier profesional di angkasa.
Definisi dan Persyaratan Hukum dari Peringkat Tipe
Peringkat tipe adalah sertifikasi tambahan yang ditempatkan pada lisensi pilot yang memberikan wewenang kepada mereka untuk bertindak sebagai pilot-in-command atau second-in-command dari “tipe” pesawat tertentu. Meskipun lisensi pilot komersial standar memungkinkan Anda terbang untuk disewa, itu tidak memberi Anda hak penuh untuk melompat ke kokpit mana pun. Umumnya, peringkat tipe diperlukan untuk setiap pesawat dengan berat lepas landas maksimum melebihi dua belas ribu lima ratus pon atau pesawat apa pun yang digerakkan oleh mesin turbojet. Persyaratan ini ada karena jet berperforma tinggi memiliki karakteristik penerbangan yang unik, sistem otomatis yang kompleks, dan prosedur darurat khusus yang tidak dapat digeneralisasikan pada model yang berbeda.
Proses untuk mendapatkan peringkat ini pada dasarnya adalah kursus khusus yang berfokus secara eksklusif pada satu model pesawat. Misalnya, jika seorang pilot dipekerjakan oleh maskapai penerbangan yang menerbangkan Boeing 787 Dreamliner, mereka harus menjalani program pelatihan yang dirancang khusus untuk badan pesawat tersebut. Bahkan dalam satu pabrikan, peringkatnya bersifat spesifik. Seorang pilot yang dinilai dapat menerbangkan Boeing 737 tidak diperbolehkan secara hukum untuk menerbangkan Boeing 777 tanpa menjalani kursus pemeringkatan tipe yang sepenuhnya terpisah, karena sistem, tata letak kokpit, dan karakteristik penanganannya sangat berbeda.
Fase Intensif Pelatihan Type Rating
Perjalanan untuk mendapatkan peringkat tipe dibagi menjadi tiga fase berbeda, dimulai dengan sekolah dasar. Selama fase ini, pilot menghabiskan waktu berminggu-minggu di ruang kelas atau menggunakan modul pelatihan berbasis komputer untuk mempelajari setiap hal yang ada di pesawat. Mereka mempelajari sistem kelistrikan, hidrolik, pneumatik, dan bahan bakar secara mendalam. Mengetahui cara menggerakkan kontrol saja tidak cukup; seorang pilot profesional harus memahami dengan tepat apa yang terjadi di balik layar ketika tombolnya diputar. Fase ini diakhiri dengan ujian tertulis atau lisan yang ketat di mana pilot harus menunjukkan pemahaman teknis yang mendalam tentang keterbatasan pesawat dan prosedur operasi normal.
Fase kedua melibatkan pesawat latih yang berbasis tetap dan perangkat pelatihan penerbangan. Ini adalah simulator canggih yang tidak bergerak tetapi meniru tata letak kokpit dengan tepat. Di sini, pilot mempraktikkan “aliran kokpit”, yang merupakan rangkaian koreografi pemeriksaan dan penekanan tombol yang diperlukan untuk setiap fase penerbangan. Di sinilah memori otot dibangun. Pilot mempelajari lokasi setiap tombol dan tombol sehingga mereka dapat mengoperasikan pesawat secara efisien dalam situasi tekanan tinggi. Mereka juga mulai mempelajari sistem komputer manajemen penerbangan khusus yang menangani navigasi dan perhitungan kinerja.
Menguasai Simulator Penerbangan Penuh
Puncak pelatihan pemeringkatan tipe terjadi di Simulator Penerbangan Penuh Level D. mesin bernilai jutaan dolar ini dipasang pada basis gerak hidrolik yang meniru setiap guncangan di landasan pacu dan setiap turbulensi. Umpan balik visual dan fisiknya sangat realistis sehingga pelatihan ini secara hukum setara dengan menerbangkan pesawat sebenarnya. Dalam simulator, fokusnya beralih dari operasi normal ke skenario abnormal dan darurat. Pilot menjalani sesi yang sangat melelahkan yang melibatkan kegagalan mesin saat lepas landas, kebocoran hidrolik, kebakaran listrik, dan pemulihan cuaca buruk.
Fase ini dirancang untuk mendorong pilot mencapai batas kemampuannya dalam lingkungan yang terkendali. Karena terlalu berbahaya dan mahal untuk melakukan penembakan mesin pada jet sungguhan yang bernilai ratusan juta dolar, simulator ini memungkinkan pilot untuk melihat skenario tersebut berulang kali hingga reaksi mereka bersifat naluriah. Check-ride, yaitu evaluasi akhir oleh penguji yang ditunjuk, berlangsung di simulator ini. Seorang pilot harus menunjukkan bahwa mereka dapat mengendalikan pesawat dengan aman selama penerbangan rutin dan kegagalan mekanis yang paling parah sebelum peringkat tersebut secara resmi diberikan.
Kesimpulan
Peringkat tipe lebih dari sekadar kotak centang di resume; ini adalah perubahan mendasar dalam identitas pilot. Ini mengubah penerbang umum menjadi spesialis mesin yang spesifik dan kompleks. Transisi dari pesawat ringan ke jet berat memerlukan lompatan besar dalam pengetahuan teknis, kesadaran situasional, dan keterampilan terbang manual. Meskipun pelatihan ini terkenal sulit dan menuntut, pelatihan ini memastikan bahwa setiap kali penumpang memasuki penerbangan komersial, mereka berada di tangan seorang profesional yang telah diuji berdasarkan standar paling ketat di industri. Bagi calon pilot, hari ketika mereka melihat model pesawat tertentu tercetak di lisensi mereka adalah hari dimana impian mereka untuk berkarir di maskapai penerbangan benar-benar menjadi kenyataan.